Kerja jadi Medical Illustrator: Buat dokter yang gemar menggambar

Pekerjaan sebagai ilustrator? Anda sudah tahu? Tapi bagaimana dengan ilustrator medis yang lebih spesifik? Bisakah kamu bekerja sebagai ilustrator medis (MI)? Haruskah itu sekolah khusus? Butuh sertifikasi? Bisakah kamu mendapatkan uang? Apa ceritanya?

dr. Muhammad Kamil, Ph.D

Bagi Anda yang penasaran, sekarang yuk kita bahas bersama dua dokter yang juga MI, dr. Muhammad Kamil, PhD, peneliti pascadoktoral dalam bedah saraf di Universitas Kagoshima yang karya ilustrasinya telah diterbitkan di berbagai jurnal nasional dan internasional, dan saat ini karyanya sedang disusun menjadi sebuah buku buku teks Di Jepang.

dr. Reza Yorghi

Ada juga dr. Reza Yorghi, mahasiswa master di University College London (UCL) yang juga bekerja sebagai pekerja lepas MI dan telah menggambar ilustrasi untuk beberapa buku dan publikasi ilmiah di Indonesia. Penasaran dengan mereka? Mari dengarkan

Apa itu ilustrator medis?

MI adalah seorang ilustrator yang khusus menggambarkan skema, ilustrasi atau gambar di bidang medis. Ilustrasi tersebut penting misalnya untuk penjelasan pada buku teks kedokteran, atlas kedokteran, publikasi jurnal, hingga video dan animasi tentang kedokteran.

“Setelah sampai di Jepang, saya jadi lebih open minded dan sadar bahwa MI memang ada, meski baru satu dekade terakhir terkenal, terutama di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang,” jelas dr. Kamil. Menurutnya, MI sudah menjadi bidang profesi tersendiri yang bahkan sudah ada besar-miliknya. “Bahkan di Johns Hopkins-AS, di Liverpool, Glasgow-Inggris, sudah ada program magisternya ilustrator medis,” tambah dr. Yorghi.

Selain program magister, ternyata ada juga Association of Medical Illustrator (AMI) yang memberikan sertifikasi/lisensi khusus untuk MI. “Dan banyak departemen keilmuan di bidang sains dan kedokteran yang memiliki subdepartemen MI ini” dr. Kamil menjelaskan. Hanya saja di Indonesia keberadaan MI masih baru dan belum populer, “setahu saya belum ada ilustrator yang memiliki lisensi tersebut,” kata dr. Kamil.

Bagaimana Anda memulai kisah Anda menjadi ilustrator medis?

Ternyata, kedua dokter tersebut sudah cukup lama bekerja sebagai dokter MI lepas mereka memulai karir ilustrator mereka ketika mereka bekerja sebagai asisten pengajar (asdos) di departemen Anatomi. “Awalnya dari praktikum anatomi ada tugas menggambar ulang atlas anatomi. Dari situlah banyak orang yang mengetahui kemampuan menggambar saya. Saat saya menjadi asisten di bagian Anatomi, saya kemudian diminta menjadi ilustrator di buku terbitan departemen tersebut, itulah klien pertama saya,” jelas dr. Yorghi.

Berangkat dari pengalaman tersebut, maka dr. Yorghi juga berkesempatan bekerja sebagai ilustrator buku terbitan Fakultas Kedokteran UGM, kemudian menggandeng rekan residen dan staf dari universitas lain yang ingin membuat ilustrasi untuk terbitannya.

Hal senada diungkapkan dr. Kamil yang mengaku menggambar karena menyukai anime. “Namun kemampuan menggambar kembali terasah saat pembelajaran anatomi dengan metode menggambar. Dari sini saya dilatih membuat ilustrasi kedokteran, khususnya anatomi, karena saya menjadi asdos di sana selama 4 tahun,” kata dr. Kamil.

Keahlian tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut saat Dr. Kamil kuliah di PPDS Bedah Saraf UNAIR. Skema operasional untuk keperluan kajian dan presentasi digambar sendiri, sehingga banyak yang kemudian menyadari Dr. Kamil ini. “Jadi terkadang mereka diminta membantu membuat ilustrasi untuk presentasi ilmiah oleh teman dan senior. Saya menikmati prosesnya, karena seperti mengasah kemampuan menggambar sambil belajar,” kata dr. Kamil.

Dari teman dan jaringan itulah yang dikatakan dr. Kamil bertemu dengan klien yang berniat menggunakan jasanya.

Berapa penghasilan Anda sebagai ilustrator?

“500 ribu per jam, tapi biasanya ada tawar-menawar tergantung konsep hingga kerumitan gambarnya. Untuk setiap ilustrasinya kurang lebih memakan waktu 1-2 jam,” ujar dr. Kamil. Hingga saat ini dr. Kamil telah menangani 4 proyek (masing-masing 5-10 gambar) dari klien di Indonesia, dan juga lebih dari 10 proyek dari presentasi, jurnal ilmiah artikel dan buku teks Di Jepang.

Sementara itu dr. Yorghi mengaku mendapat bayaran untuk setiap proyek, “bisa sampai 1-2 juta per proyek, tergantung tingkat kesulitannya, tapi satu proyek kadang bisa sampai 20 gambar.” Padahal penghasilan yang diperolehnya sering kali lebih rendah dari itu upaya diberikan, dr. Yorghi mengaku senang diminta menjadi ilustrator, “lumayan, bisa melakukan amal lewat buku juga,” ujarnya.

menurut dr. Yorghi sendiri, saat ini tuntutan MI dinilai mulai meningkat. Bahkan, dalam setahun terakhir, setidaknya ada 6 klien yang pernah bekerja sama dengan dr. Yorghi, dimana sebagian besar kliennya mendapat rekomendasi dari klien-klien sebelumnya, “Tidak harus jumlah klien yang ditentukan, agar karya ilustrator bisa ‘tercapai’. meninggalkanistirahat, atau pembakaranucap dokter yang juga pemilik usaha kue brownies ini.

Bagaimana prospek ilustrator medis di Indonesia?

“Kedepannya prospeknya akan lebih baik lagi. Karena banyak penerbit buku kedokteran atau buku biologi yang membutuhkannya. Atau Dinas Kesehatan yang memerlukan ilustrasi untuk leaflet, misalnya. Karena gambar adalah media yang paling mudah dicerna oleh orang awam,” jelas dr. Yorghi.

“Setahu saya di Jakarta ada satu (layanan MI), medi.medi (akun IG medimedi.education)” lanjut dr. Kamil, “Jaringan ilustrator medis di Indonesia juga sudah mulai bermunculan, dan masih ada potensi lebih banyak lagi di masa depan.” menurut dr. Kamil, MI mayoritas masih pekerja lepas Atau lakukan itu sebagai proyek sampingan. Harapannya ke depan ada wadah yang bisa dipandang sebagai bagian penting ilmu kedokteran yang berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. “Apalagi FK di Indonesia saat ini berjumlah 70 orang,” tambah dr. Kamil.

Hanya saja, soal tarif, baik Dr. Kamil maupun dr. Yorghi menyadari permasalahan ini akan tetap menjadi momok, mengingat kesadaran akan hak cipta di Indonesia maupun di dunia masih rendah. “Di Indonesia karena tidak ada standarisasi, seringkali tarifnya terkesan acak. Bahkan ada yang bertanya, ‘lho, bayar meskipun?’” kata dr. Kamil.

Bagi yang berminat dengan profesi ini, apa saja yang perlu dipersiapkan?

“Yang jelas, tidak perlu minder saat melihat gambaran orang lain yang lebih bagus. Sebagai seorang MI, yang terpenting adalah memberikan ilustrasi yang benar secara ilmiah dan mudah dipahami. Gambar yang bagus adalah bonus” kata dr. Yorghi. Selain itu, dr. Yorghi juga menyarankan teman-teman untuk membuat portofolio melalui media sosial seperti Instagram atau link in.

dr. Kamil, “bisa juga memasukkan karyamu ke dalam CV, atau memamerkan hasilnya di media sosial, efektif untuk menarik orang menilai, bisa juga untuk portofolio.” Selain itu, kita selalu bisa memulainya dengan membantu teman atau senior, dan juga lebih aktif untuk pribadi merek pada platform masing-masing. Dan, jangan lupa untuk terus berlatih sambil membangun portofolio dan merek.

Ada yang suka menggambar juga?

Periksa pekerjaan mereka di sini: @humankamil dan @yorgh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *