MARS vs M.Sc in Health Management Pilih mana? #maujadimaster #maujadimagister

Pastinya Anda sudah mengetahui jurusan Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) bukan? Bagaimana dengan Master of Science dalam Manajemen Kesehatan? pernah tahu? Kali ini ada rekan kami Dr. Rofida Lathifah, MARS, M.Si yang telah berpengalaman baik di program magister dalam maupun luar negeri. Bagaimana bisa? Mari dengarkan!

Bagaimana Anda memulai dengan 2 program Magister?

dr. Rofida Lathifah, MARS, M.Si

Rupanya, dr. Rofida Lathifah yang akrab disapa dr. Fida pertama kali mendaftar program MARS di Universitas Airlangga pada tahun 2015 “Awalnya setelah magang saya bekerja di bagian manajerial sebuah rumah sakit, karena saya sendiri lebih suka bekerja di bagian manajerial. Baru setelah itu saya mendaftar program MARS di Universitas Airlangga,” kata dr. Fida mempertimbangkan program MARS/MMR di UI, UGM, UB dan UNHAS sebelum akhirnya memilih program MARS di UNAIR. Setelah menyelesaikan pendidikan MARS di Universitas Airlangga sambil bekerja di salah satu rumah sakit, dr. Fida akhirnya kembali mengambil program magister sains Manajemen Kesehatan di City, University of London, setelah mendapat dorongan dari suaminya, berbekal beasiswa Chevening.

Mengapa Anda memilih untuk kembali ke Manajemen Kesehatan? Apa bedanya dengan Mars?

Meskipun MARS lebih mengkhususkan diri pada urusan manajerial dan administratif di lingkungan rumah sakit, Manajemen Kesehatan memiliki cakupan manajemen yang lebih luas karena mencakup berbagai institusi kesehatan, termasuk rumah sakit, pabrik obat, kantor kesehatan, dan sejenisnya. “Dan ini berbeda dengan kesehatan masyarakat, PH lebih tentang perilaku manusia, sementara manajemen kesehatan ini lebih ke arah sistemnya, yaitu seperti institusi kesehatan bahkan ke arah konsultan kesehatan,” jelas dr Fida.

Meski sudah memiliki kompetensi untuk melanjutkan ke jenjang doktor, dr. Fida memilih kembali mengambil S2 untuk kedua kalinya, “karena saya ingin lebih menjadi seorang praktisi, bukan menjadi dosen atau peneliti, dan di Indonesia gelar Doktor mungkin lebih dibutuhkan jika ingin menjadi dosen/peneliti. Kebetulan saya juga mendapat beasiswa Chevening menerapkan ini khusus untuk S2”.

Bagaimana proses studi MARS dan M.Sc Manajemen Kesehatan?

berada di Kota, Universitas London

Untuk program MARS di UNAIR berada di bawah Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat, dimana program AKK mempunyai 4 peminatan, salah satunya adalah minat studi Administrasi Rumah Sakit (cek disini). Program MARS dapat diselesaikan dalam waktu 4 semester (2 tahun) melalui kegiatan perkuliahan, residensi di rumah sakit (bukan klinik) pada 3 semester pertama dan tentunya skripsi pada 2 semester terakhir. Sedangkan program M.Sc di City, University of London hanya berlangsung selama 1 tahun, dimulai pada bulan Agustus/September, dengan perkuliahan yang ditempuh selama 9 bulan (term 1-2), dan ditutup dengan tesis dalam 3 bulan terakhir (istilah terakhir) (lebih jelas klik di sini)

“Dari segi pendidikan sebenarnya mirip. Di City, mata kuliahnya meliputi manajemen strategis, kepemimpinan, keuangan, evaluasi farmasi & ekonomi, inovasi kesehatan, konsultasi kesehatan Sama dengan metode penelitian, yang satu ini tidak terlalu banyak perkuliahan karena dulu di MARS serupa, tentang keuangan, manajemen sumber daya manusia, pemasaran, logistik dan lain sebagainya” dr. Fida menjelaskan, “Kuliah di Manajemen Kesehatan juga menyenangkan, karena teman-teman berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, ada yang dari psikologi, fisioterapi, dan masing-masing sudah pernah bekerja sebelumnya, jadi seru sekali bila membagikan pengalaman saat diskusi kelas. Begitu pula di MARS, ada dokter, dokter gigi, lulusan kesehatan masyarakat, perawat dan lain-lain.” Dari pengalamannya, dr. Fida menekankan pentingnya pengalaman kerja di bidang manajerial sebuah rumah sakit sebelum mempelajari MARS dan Manajemen Kesehatan. Karena selain pengalaman tersebut menjadi syarat pendaftaran (untuk program MARS di UNAIR dan untuk beasiswa), memiliki pengalaman kerja di bidang manajerial dapat memudahkan kita mencerna pelajaran yang berhubungan dengan manajemen dan keuangan ini.

Apa keuntungannya ambil S2 meski 2 kali?

menurut dr. Fida, setiap program yang diikutinya mempunyai kelebihan masing-masing. Dari pengalamannya mempelajari program MARS di UNAIR, dr. Fida mengaku hal itu lebih mudah baginya jaringan dengan teman-teman yang bekerja di bidang yang sama, terutama yang sudah berpengalaman di dunia manajemen rumah sakit, “Agar bisa saling bertukar informasi”. Sedangkan pendidikan di luar negeri lebih memberikan wawasan keilmuan, karena hakikat pendidikan itu sendiri lebih terbuka, bahkan untuk hal-hal yang tabu untuk dibicarakan. Selain itu, peluang untuk membangun jaringan di luar tempat belajar, misalnya dengan sesama WNI di luar negeri, dengan petugas KBRI, juga menjadi keuntungan tersendiri. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah “melatih kepercayaan diri menghadapi orang asing atau bule” ujar dr. Fida.

Bagaimana rencana ke depannya setelah mengantongi dua gelar?

Dr Fida yang sangat tertarik dengan bidang tersebut keuangan Dan manajemen kesehatan sedang merintis usaha di bidang kesehatan dengan tetap bekerja sebagai Satuan Pengawasan Intern (SPI) di sebuah rumah sakit sertamengelola laboratorium klinik di daerah Jombang. “Karena suami saya juga mengambil gelar master kewiraswastaan bidang kesehatan, jadi sekarang kami sedang mengembangkan perusahaan konsultan kesehatan, penyedia sistem IT kesehatan atau lembaga pelatihan. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk bisnis alat kesehatan juga,” ujarnya. Dr Fida mengaku inspirasi inovasi ini didapatnya dari pengalamannya bekerja di bidang manajerial sebuah rumah sakit.

Yang jelas dengan menyandang gelar MARS/Manajemen Kesehatan, dokter akan memiliki kualifikasi untuk masuk ke ranah manajemen hingga ke ranah direksi, sehingga tidak dapat dipungkiri hal ini akan berdampak pada pendapatan seorang dokter. “Apalagi saat ini masih banyak rumah sakit yang mencari kualifikasi MARS untuk ditempatkan pada posisi manajer, bahkan direktur. Terkadang kita tidak perlu melamar pekerjaan, karena jumlah lulusan MARS masih sedikit ya kelebihan pasokan sama seperti dokter umum,” jelas dr. Fida, “tapi kembali ke kebutuhan rumah sakit”.

Bagi yang ingin melanjutkan MARS/Manajemen Kesehatan, ada saran?

“Masuk program Manajemen Kesehatan sebenarnya tidak sulit, yang penting IELTS lolos. Mungkin berjuangitu di sana. Dan tentunya carilah beasiswanya,” ujar dokter yang mendapat pendampingan langsung dari sang suami yang juga mendapat beasiswa yang sama, “untuk beasiswa Chevening yang penting punya pengalaman kerja 2 tahun dan menulis. karangan yang bagus. Karena seleksinya sangat ketat karangantambah dr. Fida. Sedangkan untuk melanjutkan pendidikan MARS bisa dilihat dulu persyaratan di kampus masing-masing, “kadang ada yang membutuhkan pengalaman kerja di manajemen rumah sakit, ada pula yang tidak. Namun berkecimpung dalam dunia manajemen rumah sakit menjadi nilai plus yang menurut saya pribadi sangat bermanfaat mengaitkan dengan materi perkuliahan” jelas dr. Fida.

Jika iya, tertarik ke sini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *