#maujadippds: Farmakologi Klinik! Yes klinik, yes struktural

Pernahkah Anda mendengar tentang farmakologi klinis? Bagi yang belum tahu dan ingin mengetahuinya, baca dulu artikel dari tim #maujadiapanih ini! Siapa tahu ada peluang untuk masa depan Anda! Yuk berkenalan dengan program studi Farmakologi Klinik

Mengapa Farmakologi Klinis?

dr. Jefman Efendi Marzuki, warga program pendidikan spesialis Farmakologi Klinik menjelaskan alasannya mengikuti program studi yang tergolong baru ini, “Farmakologi Klinis bagi saya merupakan salah satu jawaban atas kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini dan masa depan.” Menurutnya, pengendalian mutu dan pengendalian biaya dalam pelayanan kesehatan sangat diperlukan, seperti formularium rumah sakit sebagai “gudang senjata” yang disiapkan bagi para dokter untuk berperang. Dokter Spesialis Farmakologi Klinik akan menjadi jembatan antara fungsional, manajemen rumah sakit, dan regulator. Hal tersebut juga dibenarkan oleh rekannya, dr. Mario Abet Nego yang menjelaskan peranan dokter spesialis farmakologi klinis di suatu rumah sakit yaitu satu kaki berfungsi dan satu kaki lagi manajerial. “Bagi dokter yang berminat pada pekerjaan fungsional dan manajerial, program studi ini akan sangat cocok,” ujarnya.

Selain itu, dr. Jefman percaya bahwa konsep “obat yang dipersonalisasi” merupakan konsep pelayanan medis yang harus dijalankan, “yaitu setiap individu akan diberikan pengobatan sesuai dengan karakteristik individu masing-masing” jelasnya.

Apa itu Farmakologi Klinis?

Pertimbangan keamanan, kemanjuran, kesesuaianDan biaya memainkan peran penting dalam manajemen pasien. Hal inilah yang dipelajari dalam bidang farmakologi klinis. Berdasarkan dr. Jefman, salah satu faktor yang berpotensi mempengaruhi respon obat adalah perubahan farmakokinetik pada populasi khusus, seperti penyakit kritis, obesitas, disfungsi organ tertentu, perubahan fisiologis, dan lain-lain. “Menurut saya, farmakologi klinis mampu memberikan pertimbangan terkait hal tersebut. Mengoptimalkan pengobatan dengan meningkatkan efektivitas dan meminimalkan potensi efek samping merupakan salah satu keahlian yang akan dimiliki oleh farmakologi kliniskata dr. Jeffman.

Proses pendidikan Farmakologi Klinis?

“Proses kajiannya terbagi 2, tahap pengayaan dan tahap klinis. Selama pendidikan tidak ada sistem pengawalan,” jelas dr. Jefman, “Tahap klinis terdiri dari beberapa stasiun yang mengharuskan kami pergi ke departemen lain untuk mengikuti kegiatan ilmiah dan pengabdian. Meski begitu, mereka belum memberikan asupan SOAP langsung di rekam medisnya.” Selain itu, terdapat stasiun seperti stasiun KOT (Komite Kedokteran dan Terapi) yang melakukan analisis terapi obat, analisis potensi interaksi obat, dan pemantauan efek samping dalam upaya meminimalkan potensi bahaya akibat pengobatan. Selain itu, kami juga berpartisipasi dalam PPRA (Program Pengendalian Resistensi Antimikroba).

Prospek Cerah?

Meski masih banyak masyarakat yang belum menyadari peran dokter spesialis farmakologi klinis, dr. Jefman mengatakan ke depan, peran farmakologi klinis harus banyak mendapat perhatian, apalagi mengacu pada salah satu instrumen akreditasi seperti SNARS (Standar Akreditasi Rumah Sakit Nasional Indonesia) dan akreditasi JCI (Joint Commission International). Berdasarkan informasi dari dr. Jefman “Beberapa alumni telah mapan di beberapa rumah sakit”. dr. Mario Abet Nego juga menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan di era jaminan kesehatan nasional (era B**S) memberikan peluang bagi dokter spesialis farmakologi klinis untuk berperan dalam pengendalian mutu dan pengendalian biaya, “dokter farmakologi klinis dapat memberikan terapi yang efektif, aman, dan pertimbangan kesesuaian, dan memenuhi aspek farmakoekonomi. Hal ini dimaksudkan agar lama rawat inap tidak bertambah, sehingga biaya pengobatan pasien tidak melebihi tarif INACBGs yang telah ditetapkan. dr. Mario juga menambahkan bahwa “Selain bekerja di rumah sakit, seorang spesialis farmakologi klinis juga dapat terlibat dalam industri farmasi penelitian dan Pengembangan obat, regulator obat seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan tenaga pengajar/peneliti di perguruan tinggi”.

Tetapi….

Bagi yang ingin mengikuti PPDS Farmakologi Klinik, yang terpenting adalah mempersiapkan tes SIMAK UI, meliputi tes bahasa Inggris dan tes psikologi. Untuk tes tertulis dr. Jefman berpesan untuk mempelajari aspek dasar farmakologi seperti farmakokinetik dan farmakodinamik, serta tentang penelitian/uji klinis secara umum. dr. Mario berpesan “Untuk wawancara yang terpenting adalah jujur ​​mengenai alasan ketertarikan anda terhadap program pendidikan dokter spesialis farmakologi klinis. Bagi dokter baru jangan khawatir karena pengalaman kerja dianjurkan, namun tidak wajib, begitu juga dengan rekomendasi.” Terakhir, pesan dari dr. Jeffman, “Lakukan saja yang terbaik dan biarkan Tuhan yang mengerjakan sisanya.”

Jadi, apakah Anda siap menghadapi tantangan baru sebagai ahli farmakologi klinis?

BACA JUGA   #maujadippds: Anestesiologi dan Reanimasi! Ahli membangunkan dan menidurkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *