Program Pendayagunaan Dokter Spesialis: Sudah tahu?

Bagi sobat yang bercita-cita menjadi dokter spesialis, apakah sudah mengetahui tentang program pemberdayaan dokter spesialis dari Kementerian Kesehatan atau belum?

Dengan program ini, calon dokter spesialis yang tidak mempunyai tempat untuk “kembali” bisa bertugas dengan biaya yang lumayan. Seperti apa?

Asal Usul Program Pemberdayaan Dokter Spesialis (PGDS)

Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, program PGDS merupakan program pengganti Program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) yang telah dicabut berdasarkan putusan MA pada tahun 2018.

Jika WKDS merupakan program wajib, maka PGDS merupakan program sukarela. Siapa pun dapat mendaftar untuk mengikuti program ini selama telah menyelesaikan Program Sp1.

menurut dr. Daeng M. Faqih, SH, MH, Ketua Umum Pengurus Besar IDI, menilai PDGS hanya sekedar trigger atau program pemicu, bukan untuk jangka panjang. Karena untuk jangka panjang, harus ada intervensi dari pemerintah daerah juga, bukan hanya pemerintah pusat.

PDGS hanya untuk penerima beasiswa spesialis?

Meskipun dalam buku pedoman peserta PGDS disebutkan bahwa peserta PGDS merupakan Penerima Dana Pendidikan langsung (PBL) dan tidak langsung (PBTL) dari pemerintah pusat/daerah, namun diketahui bahwa program ini kini dapat diikuti oleh non-penerima beasiswa juga.

Namun penerima beasiswa PPDS dari pemerintah daerah atau pusat seperti penerima Tugas Belajar (Tubel) harus mengikuti program PGDS ini.

Padahal, sesuai Perpres Nomor 31 Tahun 2019 pasal 14 ayat 2, peserta yang mendapat bantuan pendidikan dari anggaran LPDP juga masuk dalam sasaran program PGDS ini.

Pendaftaran PGD

Seperti program Kemenkes lainnya, PDGS memiliki sistem yang mirip dengan Nusantara Sehat. Dimana dokter spesialis yang ingin bergabung dapat mendaftar ke Kementerian Kesehatan melalui website PGDS bersama mendaftar melalui perguruan tinggi 2 bulan sebelum pemilihan lokasi.

Jenis spesialisasi yang bisa diikuti antara lain Dokter Spesialis Anak, Bedah, Penyakit Dalam, Obsgyn, Anestesi, Radiologi, dan Patologi Klinik.

Nantinya, dokter yang mengikuti program PGDS akan ditempatkan di rumah sakit milik Pemerintah/TNI/POLRI di wilayah yang sebelumnya telah menyerahkan dokter spesialis ke Kementerian Kesehatan.

Umumnya adalah rumah sakit di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan, rumah sakit rujukan daerah, atau rumah sakit rujukan provinsi di seluruh Indonesia.

Untuk penempatan tanggal 1 Maret 2022, pendaftaran PGDS telah selesai Buka mulai 7 Februari 2022 hingga 11 Februari 2022. Sedangkan pemilihan lokasi dan pemberkasan akan dimulai pada 9-11 Februari 2022.

Untuk mendaftar tidak diwajibkan menunjukkan STR, namun dapat memberikan bukti pengurusan STR dari pihak kolegium.

Durasi pelaksanaan PGDS

Durasi pelaksanaan program ini hanya 12 bulan. Namun, tidak ada batasan maksimal berapa kali seorang dokter spesialis dapat mendaftar program ini.

Keunggulan yang ditawarkan program PGDS

Beberapa keunggulan yang menjadi daya tarik program ini antara lain sebagai berikut:

  • Dapatkan SIP yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat
  • Menerima manfaat dan layanan
  • mendapatkan akomodasi
  • Dapat diberikan SIP kedua dan ketiga di rumah sakit lain di wilayahnya (dengan izin)
  • Dapat mendaftar menjadi PNS pada saat penempatan (bila diterima dapat keluar dari program PGDS)

Besaran tunjangan yang diberikan mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.01.07/Menkes/545/2019, yaitu sebagai berikut:

Nilai tunjangan yang diberikan di luar layanan dan insentif daerah dapat berbeda-beda tergantung daerahnya. Menurut sumber kami, jika total nilai manfaatnya bisa mencapai 60-90 juta/bulan, tergantung lokasi.

Namun peserta PGDS juga mempunyai beberapa tugas selama penempatan, seperti membuat laporan kinerja individu yang disampaikan secara berkala kepada pimpinan rumah sakit.

Kesimpulan

Program PGDS merupakan program sukarela yang bertujuan untuk pemerataan pelayanan dokter spesialis. Program ini cukup bermanfaat bagi dokter spesialis muda yang tidak memiliki ikatan kerja.

Beberapa manfaat dari program ini dapat membantu dokter spesialis muda untuk kembali menambah modal sekaligus mencari lokasi penempatan yang lebih permanen.

Kedepannya, program ini akan menjadi paket yang melekat pada penerima beasiswa pemerintah, termasuk beasiswa Tubel dan LPDP.

BACA JUGA   Anti-aging Medicine: Apakah cuma dokter estetik? #maujadimagister

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *